Text berjalan

مجلس تعليم د روس العر بية ببس - مجلس تعليم د روس العر بية ببس - مجلس تعليم د روس العر بية ببس Majelis taklim Tingkat "PlayGroup" Nahwu Shorof metode pemahaman bagi usia lanjut

Selasa, 19 April 2011

Pohon Sejarah

Sajaratul Ambya wa mursaliin ( Kepadanya sholawat dan salam)
ِإنَّ هَذِهِ أُمُّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِى
"Sesungguhnya  ini  adalah (agama tauhid)  kamu semua  ,agama yang Satu ,dan Aku adalah Tuhan mu maka sembahlah AKU "



1. Nabi Adam a.s                     Usia 950 tahun
2. Nabi Nuh a.s                        Usia 950 tahun
3. Nabi Idris a.s                        Usia 83 tahun
4. Nabi Hud a.s                        Usia 150 tahun
5. Nabi Salleh a.s                     Usia 58 tahun
6. Nabi Ibrahim a.s                   Usia 175 tahun
7. Nabi Luth a.s                        Usia 950 tahun
8. Nabi Ismail a.s                      Usia 143 tahun
9. Nabi Ishak a.s                      Usia 180 tahun
10. Nabi Yaakub a.s                Usia 147 tahun
11. Nabi Yussuf a.s                  Usia 110 tahun
12. Nabi Ayyub a.s                  Usia 92 tahun
13. Nabi Dzulkifli a.s                Usia 75 tahun
14. Nabi Syuaib a.s                  Usia …tahun
15. Nabi Musa a.s                    Usia 120 tahun
16. Nabi Harun a.s                   Usia 122 tahun
17. Nabi Yunus a.s                   Usia … tahun
18. Nabi Daud a.s                    Usia 70 tahun
19. Nabi Sulaiman a.s               Usia 53 tahun
20. Nabi Ilyas a.s                     Usia … tahun
21. Nabi Ilyasa a.s                    Usia … tahun
22. Nabi Zakariya a.s               Usia 120 tahun
23. Nabi Yahya a.s                   Usia 30 tahun
24. Nabi Isa a.s                        Usia 33 tahun
25. Nabi Muhammad s.a.w       Usia 63 tahun


















Silsilah Nabi Muhammad Saw


Surat Rasulullah SAW  Untuk Raja-Raja..


Bukti surat-syrat Rosulullah saat berdakwah
Semua surat surat Nabi saw yang dikirim kepada raja dan penguasa dunia disambut dengan baik dan sangat dihargai sekali oleh mereka kecuali surat beliau yang dikirim kepada Kisra atau Khosrau II (Penguasa Persia).setibanya surat beliau dan sehabis dibaca surat beliau dirobek robek oleh Khosrau.
Rasulallah berdoa: “Ya Allah robek robeklah kerajaannya”.
Kalau kita membaca isi surat surat Nabi saw yang dikirim untuk penguasa penguasa dunia kita bisa lihat dengan jelas bahwa Rasulallah saw adalah seseorang yang ahli berdiplomasi dan sangat pintar bersiasat meskipun Nabi termasuk Ummy (buta baca tulis). Kita bisa lihat bahwa beliau sangat menghargai dan memuliakan kedudukan mereka para raja-raja sebagai penguasa dunia.
Di bawah ini terlampir 4 surat Nabi saw:

1- Surat Nabi Muhammad .saw untuk Raja Negus (Penguasa Ethiopia)

Isi surat:
"Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi", penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya dan yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, yang baik dan terpelihara.
Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya (kuasaNYA)  كن فا يكن. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk.




2- Surat Nabi Muhammad .saw untuk Raja Heraclius (Kaisar Romawi)
Isi surat:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Heraclius Kaisar Romawi yang agung. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Salain dari pada itu, sesungguhnya aku mengajak kamu untuk memeluk Islam. Masuklah kamu ke agama Islam maka kamu akan selamat ,dan peluklah agama Islam maka Allah memberikan pahala bagimu dua kali dan jika kamu berpaling maka kamu akan menanggung dosa orang orang Romawi.  “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. terjemahan Qs.Al-Imron 64

3- Surat Nabi Muhammad .saw untuk Raja Khosrau II (Penguasa Persia)
Isi surat:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Khosrau, penguasa Persia yang agung. Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bagi orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bagi yang bersaksi bawha Muhammad itu hamba Nya dan utusan Nya. Aku mengajakmu kepada panggilan Allah sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi seluruh manusia supaya aku memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. Peluklah agama Islam maka kamu akan selamat. Jika kamu menolak maka kamu akan menanggung dosa orang orang Majusi.

4- Surat Nabi Muhammad .saw untuk Al-Muqawqis (Penguasa Mesir)
 Isi surat:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad bin Abdullah utusan Allah, untuk al-Muqawqis penguasa Mesir yang agung. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Selain dari pada itu, aku mengajakmu kepada panggilan Allah. Peluklah agama Islam maka kamu akan selamat dan Allah akan memberikan bagimu pahala dua kali. Jika kamu berpaling maka kamu akan menanggung dosa penduduk Mesir.“.
Setelah al-Muqawqis membaca surat Nabi saw, ia membalas surat beliau dan memberikam kepada beliau dua hadiah. Hadiah pertama berupa dua budak belian bernama Maria binti Syamu’n al-Qibthiyyah yang dimerdekakan Nabi saw dan menjadi istri beliau, darinya Rasulallah saw mendapatkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim (wafat semasih kecil), nama ini diambil dari nama kakek beliau Nabi Ibrahim as. Dan budak kedua adiknya sendiri Sirin binti Syamu’n Al-Qibthiyyah yang dikawini Hassan bin stabit ra, sastrawan unggul pada zaman Nabi saw. Hadiah kedua berupa kuda untuk tunggangan beliau.

Surat Rasulullah Muhammad .Saw Untuk Gubernur Mesir

Aly Hatib melewati jalan yang jauh. Saat ini dia telah tiba di Laut Merah dan sedang menanti sebuah kapal untuk membawanya ke seberang lautan. Hatib bermaksud pergi ke kota Iskandariah karena ia membawa sebuah surat penting dari Rasulullah saw untuk Gubernur Mesir. Adakalanya rasa khawatir menyergap ke dalam jiwanya. Dia mengkhawatirkan kemampuannya sendiri untuk dapat menyempaikan kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah kepada Gubernur Mesir.Dia berpikir sendirian tentang cara yang harus dilakukannya dalam menyampaikan surat Rasulullah kepada gubernur Mesir. Dia mereka-reka sendiri, ucapan apa yang pertama kali harus disampaikannya dan bagaimana caranya agar ia bisa menyampaikan pesan Rasulullah tanpa ada kekurangan sedikitpun.
Hatib adalah seorang lelaki mukmin yang bijaksana dan penuh keimanan. Setiap kali dia merasa ragu dan bimbang, dia akan membaca ayat Al-Quran agar jiwanya menjadi tenteram. Akhirnya, sepanjang perjalanan, ia terus-menerus membaca Al-Quran hingga akhirnya dia tiba di Iskandariah, ibu kota Mesir. Hatib langsung pergi ke istana Gubernur Mesir dan meminta izin untuk bertemu dengannya. Gubernur Mesir yang bernama Muqauqis sebelumnya telah mendengar tentang munculnya seorang Rasul di bumi Hijaz. Saat mendengar bahwa seorang utusan Rasul telah datang untuk menemuinya, segera saja dia memerintahkan agar Hatib dibawa ke hadapannya. Hatib melangkah masuk dengan penuh ketenangan dan keyakinan. Ketika dia telah sampai ke hadapan Muqauqis, dengan penuh sopan, ia memberikan salam dan berkata:
“Aku diutus oleh Muhammad, rasulullah. Aku membawa surat untukmu”
Muqouqis mengambil surat itu, kemudian ia membuka dan membacanya:
“Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad, anak Abdullah kepada Muqouqis, pemimpin rakyat Mesir. Salam bagi para pengikut hidayah. Aku menyeru engkau kepada agama Islam. Engkau akan selamat dan aman jika engkau masuk Islam. Wahai ahli kitab, kami mengundang engkau untuk kembali kepada keyakinan asal di mana antara kami dan engkau adalah sama, bahwa kita tidak menyembah selain dari Tuhan dan kita tidak menyekutukannya. Sebagian dari kami tidak menuhankan sebagian yang lain. Oleh karena itu, jika Ahli Kitab tidak menerimanya, maka katakanlah bahwa kami adalah orang-orang Islam.”
Selepas membaca surat itu, Gubernur Mesir tenggelam dalam pikirannya. Sebelumnya, dia telah membaca di dalam Injil dan kitab-kitab agama Kristen yang lain, bahwa Nabi Isa as telah memberitahu umatnya mengenai kedatangan nabi yang terakhir. Di sisi lain, dia juga telah mendengar berita mengenai kepribadian, perilaku, dan sifat Rasulullah, yang membuat dia menyadari bahwa bahwa Muhammad adalah nabi terakhir. Namun, kekuasaan dan kedudukan yang dimilikinya sebagai Gubernur Mesir, membuatnya enggan untuk mengakui hakikat ini. Setelah beberapa saat merenung dan berdiam diri, Muqauqis bertanya kepada Hatib:
“Jika Muhammad memang benar-benar utusan Tuhan, mengapa penentangnya berhasil mengusirnya keluar dari kota Mekah dan dia terpaksa tinggal di Madinah? Mengapa dia tidak melaknat mereka agar mereka hancur dan musnah? Nabi Isa adalah seorang Nabi dan engkau adalah pengikut ajaran Isa. Mengapa ketika orang-orang Yahudi berencana untuk membunuhnya, Nabi Isa tidak melaknat mereka agar Tuhan menghancur leburkan mereka?”
Gubernur Mesir tercengang ketika mendapatkan jawaban yang sedemikian logis dan berani. Iapun memuji-muji Hatib:
“Bagus, bagus, engkau adalah seorang lelaki yang berpengetahuan luas dan sesungguhnya engkau memang datang dari seorang lelaki yang berpengetahuan.”
“Wahai Gubernur Mesir, sebelum engkau menjadi gubernur di sini, seseorang bernama Firaun telah menjadi pemimpin Mesir dan dia menganggap dirinya sebagai Tuhan. Lalu Tuhan telah menghancurkan mereka supaya kehidupan mereka dijadikan pelajaran buat kalian. Kini, berusahalah supaya kalian tidak menjadi contoh buruk kepada orang lain.”
Mendengar perkataan Hatib, Muqouqis kembali tenggelam dalam pikirannya. Dia terlihat seperti orang yang bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya serta apa yang harus dikatakannya kepada Hatib. Muqouqis kemudian mengangkat kepalanya dan menatap mata Hatib. Dari cahaya mata lelaki muslim itu, ia dapat merasakan dengan jelas keikhlasan dan kejujurannya. Kemudian, Hatib sekali lagi memecahkan kesunyian dengan berkata:
“Para pemimpin Mekah bersikap keras terhadap Muhammad dan memeranginya. Orang-orang Yahudi dengan sikap dengki memusuhinya. Tetapi, kelompok yang paling dekat dengan Muhammad ialah orang-orang Kristen, karena Isa al Masih telah menyampaikan berita tentang kedatangan nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad. Kini kami menyeru kalian untuk mematuhi Muhammad dan mengikuti Al-Quran. Setiap bangsa yang mendengarkan seruan Nabi haruslah mengikutinya.”
Perbincangan Hatib, utusan Rasulullah dengan pemimpin Mesir telah berakhir. Tetapi, Muqouqis tidak memberikan jawaban yang diinginkan. Hatib selama beberapa hari menanti jawaban surat dari Gubernur Mesir untuk dibawanya kepada Rasulullah saaw. Akhirnya, suatu hari Muqouqis meminta Hatib untuk menemuinya. Muqouqis berkata:
“Dari kata-katamu, aku memahami bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir, tetapi jika aku memeluk agamamu, rakyatku akan membenciku dan menolakku sebagai pemimpin. Aku berharap semoga rakyat Mesir dapat mengambil manfaat dari kedatangan Nabi Muhammad dan agama Islam. Oleh karena itu, rahasiakanlah perbincangan antara aku dan engkau.
Kemudian Muqouqis memerintahkan seseorang dari penulisnya yang memahami bahasa Arab untuk menulis surat buat Rasulullah saaw, yang isinya sebagai berikut:
“Kepada Nabi Muhammad putra Abdullah, dari Muqouqis gubernur Mesir. Salam bagimu. Aku telah membaca suratmu dan aku telah memahami maksudmu dan hakikat dari seruanmu. Aku menyambut baik kedatangan utusanmu.”
Muqouqis juga menulis tentang hadiah yang disertakan bersama surat tersebut dan mengakhiri surat tersebut dengan kalimat “Salam Bagimu”. Dengan demikian, Muqouqis dalam hatinya telah menerima seruan nabi, tetapi dia menghindar untuk mengungkapkannya secara terang-terangan. Hatib pun kemudian diantarkan ke Syam oleh sebagian pengawal Muqouqis. Dari Syam, Hatib melanjutkan perjalanan ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Hatib segera menyerahkan surat Muqouqis. Setelah membaca surat Muqouqis, Rasulullah saaw memandang ke kejauhan dan bersabda:
“Islam akan segera menyebar di bumi Mesir.”

Hikayat Raja Najasyi (Bagian Pertama)

Syahdan, di masa-masa awal, kondisi umat Islam sangatlah memprihatinkan. Rasulullah mendapat permusuhan di sana-sini. Para sahabat didera siksaan hebat dari kaum kafir Qurays. Mereka amat menderita. Mekah terasa begitu sempit. Tatkala penindasan itu kian menjadi-jadi, baginda nabi memerintahkan sebagian sahabat berhijrah ke negeri Habasyah. “Sesungguhnya di bumi Habasyah terdapat seorang raja yang di wilayahnya tiada seorang pun terzalimi. Hijrahlah kalian ke sana dan berlindunglah di naungannya sampai Allah memberi jalan keluar dari kesempitan ini,” sabda beliau SAW.
Maka pergilah sekelompok sahabat ke Habasyah. Mereka berjumlah delapan puluh orang pria dan wanita. Sesampainya di sana, mereka merasa aman dan bisa menikmati manisnya ketakwaan tanpa seorang pun mengusik mereka. Akan tetapi, tak lama berselang, kaum Quraiys mencium keberadaan mereka. Siasat busuk pun dirancang.
Bani Quraisy mengutus dua orang yang cerdas dan cukup dengan pengalaman, yaitu ‘Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah ke Habasyah. Mereka membawa beragam hadiah untuk diberikan kepada raja Najasyi dan para menterinya. Setelah sampai, mereka menemui para pembesar Habasyah terlebih dahulu. Kepada setiap pembesar itu mereka memberi sejumlah hadiah sembari menebar hasutan, “Sesungguhnya ada beberapa orang bodoh dari negeri kami yang menyusup ke negeri kalian. Mereka keluar dari agama nenek moyang dan memecah belah kaum. Maka apabila kami menghadap maharaja untuk mengadukan perkara mereka, pengaruhilah maharaja agar mau menyerahkan mereka kepada kami tanpa menanyakan perihal agama mereka. Sesungguhnya kami, para pembesar mereka, lebih tahu tentang keadaan mereka dan tentang apa yang mereka yakini saat ini.”
Lalu Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah masuk menghadap raja dan bersujud menyembahnya. Raja Najasyi menyambut dengan tangan terbuka. Mereka menyerahkan hadiah-hadiah yang dibawa dari Mekah seraya menyampaikan salam penghormatan dari para pembesar Qurays. Mereka lantas mengadu, “Wahai raja, sesungguhnya ada segelintir orang bodoh dari negeri kami yang menyusup ke negeri tuan. Mereka telah meninggalkan agama kami, akan tetapi tidak masuk ke agama tuan. Mereka datang dengan agama baru yang kami tidak mengetahuinya secara persis. Kami diutus para pembesar kami untuk menemui tuan, agar tuan berkenan mengembalikan orang-orang ini kepada kami.”
Raja Najasyi menatap para menterinya sebagai isyarat meminta pendapat. Maka salah seorang dari mereka berkata, “Mereka benar wahai paduka, sesungguhnya kita tidak akan tinggal diam dengan agama baru yang mereka ada-adakan, dan sesungguhnya kaum mereka lebih tahu keadaan mereka dari pada kita.”
Tapi, nyatanya, Najasyi tidak terpengaruh, “Tidak, aku tidak akan menyerahkan mereka sampai aku mendengar apa yang mereka katakan dan tahu apa yang mereka yakini. Jika benar mereka dalam kejahatan, aku akan menyerahkan mereka kepada kaumnya. Namun jika mereka berada dalam kebaikan, maka aku akan melindungi dan berlaku adil kepada mereka selama berada di kekuasaanku.” Raja Najasyi pun kemudian memanggil orang-orang Islam itu untuk menghadapnya dan bertemu dengan utusan kaum Qurays.
Dengan sedikit perasaan gentar yang dirasakan sebagian dari mereka, kaum mukminin pergi menghadap sang raja. Mereka mendapati di sana ada Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka mengucapkan salam kepada raja lalu duduk. Amr bin Ash menatap sinis ke arah mereka “Mengapa kalian tidak bersujud kepada raja?” serunya. “Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah,” jawab mereka.
Mendengar ucapan itu, sang raja merasa sangat heran, kemudian bertanya, “Macam apakah agama kalian ini, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian dan tidak juga masuk ke dalam agama kami.?” Mendengar pertanyaan ini, Ja’far bin Abi Thalib, selaku juru bicara kaum muslimin menjawab:
”Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus seorang rasul di tengah kami. Namanya Ahmad. Kerasulannya telah dikabarkan oleh Isa bin Maryam Alaihissalam jauh sebelumnya. Ia menyeru kami kepada Allah untuk menyembah dan meng-esakan-Nya. Ia memerintahkan kami menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan. Ia menuntun kami pada kebaikan serta menghalau kami dari perbuatan cela.
Najasyi bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu yang dibawa rasulmu dari Tuhannya?”
Ja’far bin Abi Thalib menjawab,“Ya”
“Kalau begitu bacakanlah untukku!” perintah Najasyi. Ja’far pun kemudian membacakan surat Maryam ayat 16 sampai 24 yang mengisahkan tentang seorang perempuan suci yang dikaruniai putra bernama Isa Alaihissalam.
Menyimak lantunan ayat-ayat itu, Raja Najasyi menangis hingga jenggotnya basah oleh air mata, demikian juga para pendeta di sekelilingnya. Mereka semua menangis hingga lembaran-lembaran yang mereka bawa basah terkena linangan air-mata.
Raja Najasyi melihat ke arah Amr bin Ash dan kawannya, “Sesungguhnya apa yang ia baca dan apa yang dibawa Isa adalah benar-benar keluar dari satu misykat (sumber),” lirihnya. “Demi Allah, aku sama sekali tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian,” sambungnya. Kemudian ia bangkit pergi, diikuti oleh orang-orang yang bersamanya.


BERSAKSI
Tatkala tiba waktu pagi, Amr masuk menghadap Najasyi lagi. Ia berbisik pelan, “Wahai raja, sungguh mereka telah mengatakan sesuatu di depanmu, akan tetapi mereka menyembunyikan sesuatu darimu. Ketahuilah, mereka beranggapan bahwa Isa bin Maryam hanyalah seorang hamba.” Maka Najasyi memanggil mereka kembali dan bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”
Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Kami mengatakan seperti apa yang telah datang dari nabi kami SAW”
Raja bertanya lagi, “Apakah yang ia katakan?”
Ja’far menjawab, “Sesungguhnya Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya dan kalimat-Nya yang dilahirkan lewat Maryam yang masih suci.” Mendengar ini Najasyi kemudian berkata, “Demi Allah, Isa tidaklah lebih dari apa yang kalian katakan itu.”
Mendengar perkataan Najasyi yang terakhir, para pendeta dan yang hadir saling beradu pandang dan berbisik satu sama lain. Mereka seperti mengingkari apa yang telah dikatakan oleh Najasyi. Maka Najasyi memandangi mereka sembari menukas, “Walaupun kalian mengingkarinya!”
Sesaat kemudian, ia berkata kepada Ja’far bin Abi Thalib beserta rombongannya, “Pergilah, sesungguhnya kalian aman di negeriku ini. Barangsiapa yang menyakiti kalian maka ia akan merugi. Sekali pun aku diberi gunung emas, aku tak akan menyakiti salah seorang di antara kalian.”
“Kembalikan semua hadiah itu kepada Amr dan kawannya,” perintahnya kepada seorang pelayan. “Kita tidaklah membutuhkan itu semua, dan sesungguhnya Allah tidak meminta uang sogokan dariku tatkala Dia mengembalikan kerajaan ini kepadaku, sehingga aku perlu mengambil uang sogokan setelah mendapatkan kekuasaan ini. Dan orang-orang tidak perlu patuh karena aku, sehingga aku pun harus patuh karenanya.”
Setelah kejadian itu, para pendeta menyiarkan kepada khalayak bahwa sang raja telah meninggalkan agamanya. Mereka menghimpun rakyat untuk memakzulkan maharaja dari tahta.
Mendengar rencana kudeta itu, Najasyi menulis surat kepada Ja’far dan para sahabatnya sambil menyiapkan sebuah perahu bagi mereka, “Naiklah kalian dan bersiaplah terhadap apa yang akan terjadi, jika aku kalah maka pergilah ke tempat yang kalian inginkan dan jika aku menang maka tetaplah di sini.”
Raja mengambil sehelai kertas dari kulit rusa dan menuliskan di atasnya, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Allah, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul terakhir-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Isa adalah hamba dan rasul-Nya, ruh dan kalimat-Nya yang ia tiupkan kepada Maryam.”
Ia menggantungkan sehelai kertas tersebut di dadanya dan pergi. Dengan mengenakan pakaian kebesarannya, ia menemui rakyatnya. Tatkala sampai di depan mereka ia menyeru dengan gagah berani, “Wahai rakyat Habasyah, apa yang kalian saksikan pada diriku?”
“Engkau adalah raja yang bijaksana,” jawab mereka.
Raja bertanya lagi, “Apa yang kalian tidak suka dariku.?”
Mereka menjawab, “Engkau telah meninggalkan agama kami dan mengatakan bahwa Isa adalah seorang hamba.”
Najasyi berkata, “Apa yang kalian katakan tentang Isa?”
Mereka menjawab, “Ia adalah anak Allah.”
Najasyi pun kemudian meletakkan tangannya di atas sehelai kertas yang tergantung di dadanya, lalu, dengan suara menggelegar, berkata, “Dan aku bersaksi bahwa Isa tidaklah lebih dari sesuatu ini.” (maksudnya adalah tulisan yang tergores di kertas tersebut). Seluruh rakyat pun merasa gembira dan pergi meninggalkan raja dalam keadaan ridha.
Mendengar peristiwa yang terjadi antara Najasyi dan kaum muslimin, serta perlindungan yang diberikan kepada mereka, Rasul merasa sangat gembira. Beliau gembira terhadap kabar kecondongan Najasyi kepada Islam dan keyakinannya terhadap kebenaran Al-Qur’an. Hubungan antara Najasyi dan Nabi SAW pun menjadi baik dan erat

Karomah Sahabat Nabi Muhammad SAW

Seorang Nabi atau Rasul wajar apabila diberi kelebihan oleh Allah dengan
berbagai macam mukjizat.
Tetapi lain halnya dengan para pengikutnya,
misalnya saja para sahabat Nabi Muhammad SAW, diberi kelebihan oleh
Allah berupa karomah. Mau tau siapa para sahabat Nabi yang memiliki
karomah itu? Ikuti terus teks di bawah ini :
  • 1. Karomah Abu Bakr As-Siddiq
    Fakhrur Razi, tatkala menafsirkan Surat AI¬Kahfi banyak menceritakan tentang karomah para sahabat Nabi termasuk di dalamnya karomah Abu Bakr As-Siddiq. Diceritakan bahwa saat mayat Abu Bakr dibawa dan mendekati  pintu makam Rasulullah, para pengusung mengucapkan salam,
    "Assalammu'alaika ya Rasulullah, ini Abu Bakr sedang di luar pintu".
    Tanpa diduga pintu makam langsung terbuka dan terdengar suara, "Masuklah
    orang yang dicintai kepada orang yang mencintainya
    "
    Menurut Imam Taj Al-Subki, Abu Bakr memiliki 2 macam keramat. Pertama,
    mengetahui penyakit yang dialaminya membawa kematian dan mengetahui bayi
    yang ada didalam kandungan isterinya adalah bayi perempuan.
  • 2. Karomah Umar Ibn Al-Khatab Al- Faruq Sarriyyah Ibn Zanim adalah salah seorang pemimpin bala tentara Umar Ibn Al Khattab. Suatu ketika dia sedang berada di medan peperangan dan saat balatentera yang dipimpinnya berada di pintu Nuhawand. Saat itu, Umar Ibn-Al Khatab sedanan berada di atas mimbar untuk membacakan khotbah,
    tiba-tiba saja dia berteriak agar Sarriyyah Ibn Zanim mengubah strategi perang. Padahal saat itu Sarriyyah Ibn Zanim berada di arena pertempuran di negeri timur, sedangkan Umar di Madinnah. Kemudian suara komando Umar tersebut didengar oleh Sarriyyah yang segera mengubah strategi perangnya.
    Diceritakan, di masa Umar Ibn Al-Khattab pernah terjadi gempa bumi yang maha dahsyat. Kemudian Umar bertahmid dan memukulkan cemetinya seraya berkata, "Hai bumi, tenanglah kamu!" Maka dengan segera bumi tenang kembali seperti semula.
    Saat penaklukkan kota Mesir di bawah panglima 'Amr Ibn Al-As, terjadi kekeringan di sungai Nil. Menurut penduduk Mesir air akan mengalir lagi bila seorang perempuan harus menjadi korban sebagai tumbal. Perihal ini ,'Amr Ibn Al-As melaporkannya kepada Umar Ibn Al¬Khattab. Lalu Umar menuliskan surat kepada sungai Nil yang berbunyi, "Dari Umar Amirul Mukminin kepada sungai Nil di Mesir. Amma badq. Jika kamu mengalir dengan kehendakmu, maka janganlah kamu mengalir. Namun jika kamu mengalir karena kehendak Allah Yang Maha Esa dan Perkasa, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Perkasa untuk mengalirimu"Selanjutnya surat itu dilemparkan ke dalam sungai Nil. Dan pada malam harinya suangai Nil mulai berair. 
  • 3. Usman Ibn ‘Affan
    Usman terkenal dengan ketajaman firasatnya, yang oleh Ibn Taymiyyah digolongkan karomah yang dianugrahkan Allah kepadanya. Ketajaman firasatnya telah dibuktikan ketika dia berada di sebuah majelis taklim. Ketika itu datang seorang laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya.
    Usman mengatakan, "Ada 2 orang di antara kalian yang datang, sedangkan kedua matanya terlihat bekas berzinah..! " sindir Usman. Kemudian orang tersebut terkejut dan mengira bahwa Usman telah mendapatkan wahyu dari Allah sebagaimana layaknya Nabi Muhammad SAW.
  • 4. Karomah' Ali Ibn Abi Thalib
    Ali terkenal bisa berdialog dengan orang¬-orang yang telah meninggal Pada suatu hari bersama Said Ibn Al-Musayyab, Ali masuk ke lingkungan makam kota Madinnah, dan mengucapkan salam kemudian menawarkan apakah mereka yang akan memberi kabar terlebih dahulu ataukah Ali. Mereka (paraahli kubur) menjawab, "Engkau beritakan kami kejadian apa yang ada sepeninggal kami?"
    Ali menjawab, "Sepeninggal kalian, isteri-¬isteri kalian menikah lagi, harta benda kalian telah dibagi menjadi warisan, dan anak-anak kalian menjadi yatim"
    "Dan bagaimana berita dari dalam kubur?" lanjut 'Ali.
    Mereka mengatakan, "Kain kafan telah tersobek, rambut-rambut jadi berantakan, kulit-kulit telah tercabik-cabik, mataku turun sampai ke pipi, mulutku mengeluarkan cairan bercampur nanah, apa yang kuperbuat di atas dunia telah kudapatkan balasannya di dalam ini, aku sedang menunggu nasib di masa mendatang."
    Diriwayatkan pula bahwa Ali dapat menyembuhkan orang yang sakit lumpuh bertahun-tahun. Hal ini terbukti telah membuat orang lumpuh yang diketemukannya saat Ali dan putra kembarnya, Hasan dan Husain mendatangi Ka'bah untuk beribadah, lalu bertemu dengan orang lumpuh tersebut akibat dari perbuatan sebelumnya. Maka'Ali pun mendoakan dan menyerukan kepadanya untuk berjalan, maka orang tersebut dapat berjalan seperti
    orang-orang sehat lainnya.
    Fakhrur Razi menjelaskan bahwa sebagian karomah Ali adalah dapat menyambung tangan yang telah dipotong, akibat kisas pencurian, hal ini terjadi pada budaknya sendiri.
    Karomah Sa'ad Ibn Abi Waqqas
    Yang terkenal adalah kemustajaban doanya. sebagaimana diceritakan Tabrani Ibn 'Asakir dan Abu Nu'aem dari Abi Qubaisyah bahwa pada suatu hari, Sa'ad pernah dihina dan dicaci maki oleh seseorang yang tidak mengenalnya. Kemudian Sa'ad berdo'a kepada Allah, "Ya Allah, hentikanlah gangguan lidah dan tangan orang yang menghinaku ini!" Dan saat orang tersebut ikut terlihat dalam peperangan, anak panah menancap ke bagian mulut dan tangannya, sehingga benar-benar tidak dapat berbicara dan memegang sesuatu.
    At-Tabrani juga telah mengemukakan suatu riwayat dari Ammir Ibn Sa'ad, bahwa ketika Sa'ad bertemu dengan orang yang mencaci maki Ali Ibn Abi Thalib, kemudian Sa'ad menegurnya, "Jangan kau caci orang yang telah meninggal dunia, nanti aku akan mendoakanmu".
    Orang tersebut mengatakan, "Aku tidak takut dengan gertakmu”Akhirnya Sa'ad pun berdoa, "Ya Allah berilah orang ini atas pelajaran hinaannya terhadap orang yang telah meninggal" Seketika itu, disaksikan oleh orang banyak, si penghina itu terkena siksa-Nya.
  • 5. Karomah Khalid Ibn Walid
    Khalid seorang tidak terkena mudharatnya racun yang diminumnya. Juga dapat mengubah isi guci yang semula khamer menjadi cuka. Banyak riwayat tentang karamat Khalid Ibn Al-Walid, diantaranya sebagaimana disebutkan Abu Ya’la dan Abu Nu’aim.
    Suatu ketika Khalid memakan makanan beracun dan tidak terkena oleh racunnya tersebut.
  • 7. Karomah Usayd Ibn Khudayr
    Ketika sedang membaca AI-Qur’an Surat Al-Kahfi, malaikat turun seperti bayangan halus dari langit untuk mendengar bacaan yang begitu indah dan merdu. Dan malaikat pun pernah memberi salam kepada Usayd Ibn Khudayr.
  • 8.Karomah Salman AI-Farizi
    Yang pernah makan bersama Salman satu piring, kemudian piring dan seluruh isinya terdengar mengucapkan tasbih kepada Allah SWT.
  • 9.Karomah Ubbad Ibn Basyar
    Yang pernah bersama-Sams pulang dari Majelis Rasulullah pada malam yang gelap gulita, kemudian muncul cahaya sebagai penerang mereka, dan saat mereka berpisah, cahaya itupun terbelah menjadi 2 untuk dapat menerangi masing-masing dari mereka.Nah, begitulah kisahnya.
Satu hal yang perlu diketahui, bahwa kemunculan keramat dalam As-Sunnah yang dialami oleh beberapa sahabat Nabi dalam berbagai kejadian, tentunya melalui proses panjang dan sifatnya temporer saja, alias tidak kontinew. Syariat dan ibadah yang mereka jalankan tidak menyalahi dan menyimpang dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya   Subhannallahu a'lam bishowab
Bukti Surat Rasulullah SAW  Untuk Raja2 Saat beliau berdakwah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar